Atjeh_Kabar duka itu datang dari layar telepon, bukan dari perjumpaan langsung. Seorang teman lama yang hampir satu dekade tidak lagi terdengar kabarnya tiba-tiba disebut telah meninggal dunia. Bagi mereka yang pernah mengenalnya, kabar itu bukan sekadar berita tentang kepergian seorang musisi. Ada kenangan yang ikut bangkit, percakapan lama yang terputar kembali, dan rasa sesal karena waktu telah membawa masing-masing orang berjalan ke arah yang berbeda.
Begitulah kabar kepergian Teuku Andie, vokalis Seuramoe Reggae, diterima oleh salah seorang sahabat lamanya. Kabar tentang meninggalnya Andie diketahui melalui media sosial TikTok, setelah hampir sepuluh tahun keduanya kehilangan hubungan dan tidak lagi berkomunikasi.
Teuku Andie meninggal dunia di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Syiah Kuala (RSP USK), Banda Aceh, pada Senin malam, 24 Agustus 2026. Kepergiannya meninggalkan duka bagi keluarga, sahabat, serta mereka yang selama bertahun-tahun mengenal kiprahnya dalam musik reggae Aceh.
Andie dikenal sebagai vokalis Seuramoe Reggae, kelompok musik yang selama sekitar dua dekade ikut memberi warna pada perkembangan musik reggae di Aceh. Salah satu ciri yang melekat pada karya mereka adalah penggunaan bahasa Aceh. Di tengah perkembangan musik modern yang terus berubah, pilihan itu menjadi bagian penting dari cara Andie dan kelompoknya membawa bahasa serta warna lokal ke dalam musik yang memiliki akar kuat dari budaya reggae.

Bagi publik, Andie mungkin dikenal lewat panggung dan lagu-lagunya. Namun bagi sahabat yang pernah duduk bersamanya jauh sebelum kabar duka itu datang, sosok Andie memiliki sisi yang jauh lebih dekat dan sederhana: seorang kawan yang pernah diajak nongkrong, berbincang, tertawa, dan melewati waktu tanpa banyak memikirkan bahwa suatu hari perjumpaan itu akan menjadi bagian dari masa lalu.
Pertengahan 2013 menjadi awal perkenalan itu. Saat itu, pertemuan berlangsung di sebuah provinsi yang hingga kini masih menghadapi persoalan konflik. Hubungan pertemanan kemudian tumbuh secara alamiah. Tidak selalu ada agenda besar. Keduanya cukup sering menghabiskan waktu bersama, nongkrong dan berbincang tentang banyak hal.
Ada masa ketika persahabatan tidak membutuhkan banyak syarat. Duduk bersama, berbicara tentang kehidupan, musik, perjalanan, atau hal-hal kecil sudah cukup untuk membuat sebuah hubungan terasa dekat. Waktu itu, tidak ada yang berpikir bahwa suatu hari komunikasi akan terputus begitu lama.
Pada 2015, keduanya kembali bertemu di Banda Aceh. Namun perjumpaan itu berlangsung singkat. Kesibukan masing-masing membuat waktu untuk berbincang tidak lagi sepanjang sebelumnya. Setelah itu, salah satunya harus melanjutkan perjalanan ke Tanah Gayo.
Pertemuan tersebut ternyata menjadi salah satu perjumpaan terakhir.
Hari-hari kemudian berjalan seperti biasa. Kesibukan, perjalanan, pekerjaan, dan perubahan kehidupan membuat hubungan yang sebelumnya dekat perlahan menjauh. Kontak pun hilang. Tidak ada lagi pesan, tidak ada percakapan panjang, dan tidak ada perjumpaan sebagaimana yang pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya.
Klik dibawah SIni
Hampir satu dekade berlalu.
Tidak ada yang benar-benar tahu bahwa jarak waktu itu pada akhirnya akan menjadi begitu berarti. Ketika seseorang masih hidup, kehilangan kontak sering dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Ada keyakinan bahwa suatu hari nanti akan ada kesempatan untuk bertemu lagi. Namun kematian tidak selalu memberi kesempatan itu.
Kabar tentang Andie kemudian muncul di media sosial.
Bagi sahabat lamanya, kabar tersebut menimbulkan rasa tidak percaya. Nama yang selama bertahun-tahun tidak lagi terdengar tiba-tiba muncul dalam berita duka. Bukan sebagai seseorang yang akan ditemui kembali, melainkan sebagai seseorang yang telah pergi untuk selamanya.
Kabar kematian teman lama dalam keadaan hubungan yang sudah lama terputus memang menghadirkan kesedihan yang berbeda. Ada rasa kaget karena berita datang terlambat. Ada pula penyesalan yang tidak mudah dijelaskan: mengapa dahulu tidak mencoba mencari kabarnya, mengapa tidak menghubungi lebih cepat, atau mengapa merasa masih memiliki banyak waktu untuk kembali bertemu.
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sering kali baru muncul setelah seseorang tiada.
Padahal, selama hidup, manusia kerap menunda banyak hal. Menunda menghubungi teman, menunda bertemu, menunda meminta maaf, bahkan menunda sekadar bertanya, “Apa kabar?” Kesibukan menjadi alasan yang terasa wajar. Jarak menjadi pembatas yang dianggap sementara. Sampai akhirnya sebuah kabar duka membuat semua alasan itu tidak lagi memiliki arti.
Kepergian Andie juga mengembalikan ingatan pada masa ketika musik reggae Aceh berkembang dan menjadi ruang bagi anak-anak muda untuk berekspresi. Selama sekitar dua dekade, Seuramoe Reggae menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Penggunaan bahasa Aceh dalam musik reggae menunjukkan bahwa musik tidak harus tercerabut dari akar budaya tempat ia tumbuh.
Musik menjadi cara untuk merawat ingatan. Bahasa menjadi jembatan antara karya dan masyarakat. Panggung menjadi ruang untuk menyampaikan kegelisahan, kegembiraan, dan cerita kehidupan. Dalam konteks itu, perjalanan Andie tidak hanya dapat dilihat sebagai perjalanan seorang penyanyi, tetapi juga sebagai bagian kecil dari dinamika musik Aceh.

Kepergiannya menyisakan ruang yang tidak mudah digantikan bagi orang-orang terdekat. Bagi keluarga, kehilangan seorang anggota keluarga tentu meninggalkan duka yang jauh lebih dalam. Bagi rekan sesama musisi, kepergian Andie berarti kehilangan seorang kawan seperjalanan. Sementara bagi sahabat lama yang baru mengetahui kabar tersebut setelah bertahun-tahun tidak berkomunikasi, duka itu bercampur dengan nostalgia dan penyesalan.
Kenangan tentang seorang teman tidak selalu tersimpan dalam bentuk foto atau rekaman. Kadang ia hidup dalam ingatan tentang tempat pernah duduk bersama, obrolan yang pernah berlangsung, candaan yang pernah dilontarkan, atau perjalanan yang pernah dilakukan.
Itulah yang terjadi ketika kabar kematian Andie sampai kepada sahabat lamanya. Kenangan yang selama bertahun-tahun seolah tertutup kesibukan kembali muncul satu per satu.
Andie kini telah pergi. Namun dua dekade perjalanan bersama musik reggae Aceh, pertemanan, karya, dan jejak yang pernah ia tinggalkan akan tetap menjadi bagian dari ingatan orang-orang yang mengenalnya.
Kematian juga mengingatkan bahwa tidak semua perpisahan disertai kata selamat tinggal. Ada pertemuan yang berakhir tanpa kita sadari sebagai pertemuan terakhir. Ada percakapan yang kita kira masih bisa dilanjutkan pada hari lain. Ada sahabat yang kita pikir suatu saat akan kita hubungi kembali.
Ternyata tidak selalu demikian.
Karena itu, kepergian Teuku Andie menjadi sebuah pengingat sederhana tentang waktu. Bahwa hidup terlalu singkat untuk terus menunda kabar kepada orang-orang yang pernah berarti. Tidak semua hubungan harus kembali seperti dulu, tetapi sebuah pesan singkat, sapaan, atau pertanyaan tentang kabar mungkin cukup untuk menjaga tali yang pernah ada.
Bagi sahabat yang ditinggalkan, tidak ada lagi kesempatan untuk mengulang pertemuan 2013, memperpanjang percakapan 2015, atau membuat janji bertemu kembali setelah hampir satu dekade tanpa kabar. Yang tersisa hanyalah ingatan dan doa.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Selamat jalan, sahabat. Semua kebaikanmu akan selalu kami kenang. Terima kasih telah menjadi teman yang baik. Semoga Allah SWT mengampuni segala kesalahanmu, menerima amal baikmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga husnul khatimah. Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga diberi kekuatan dan ketabahan menghadapi masa duka ini.”
Selamat jalan, Teuku Andie. Suaramu mungkin telah berhenti di panggung dunia, tetapi kenangan tentangmu tidak serta-merta ikut hilang. Bagi mereka yang pernah duduk dan berbincang bersamamu, engkau akan tetap menjadi bagian dari cerita yang tidak selesai hanya karena jarak dan waktu.
HAMBA ALLAH













