PIJAY_Di tengah gegap gempita panggung hiburan, dentuman musik, dan keramaian pesta rakyat yang mengundang ribuan orang, ada suara-suara lain yang nyaris tenggelam. Suara warga yang masih menunggu kepastian bantuan. Suara korban bencana yang bertanya mengapa rumah mereka belum masuk daftar prioritas. Suara masyarakat yang mulai curiga ketika kemeriahan justru hadir di saat berbagai persoalan mendasar belum terselesaikan.
Fenomena pesta rakyat sebagai instrumen pencitraan bukanlah hal baru dalam politik. Dalam berbagai kesempatan, perayaan massal sering muncul bersamaan dengan meningkatnya sorotan publik terhadap persoalan ekonomi, tata kelola pemerintahan, hingga polemik penyaluran bantuan. Kemeriahan menjadi ruang yang efektif untuk mengalihkan perhatian. Publik diajak menikmati hiburan, sementara pertanyaan-pertanyaan yang lebih mendasar perlahan tersingkir dari ruang diskusi.
Di atas panggung, narasi optimisme terus digaungkan. Pemerintah berbicara tentang kebangkitan, pembangunan, dan kesejahteraan. Namun di sejumlah sudut yang jauh dari sorotan kamera, masih ada warga yang berkutat dengan persoalan yang sama: rumah rusak yang belum tertangani, data bantuan yang dipersoalkan, dan ketidakpastian mengenai nasib mereka setelah bencana berlalu.
Persoalan data menjadi titik paling krusial. Hampir semua kebijakan pemerintah bertumpu pada validitas pendataan. Pejabat sering mengulang kalimat bahwa data yang benar akan melahirkan kebijakan yang benar. Pernyataan itu memang sulit dibantah. Masalahnya, di lapangan muncul pertanyaan yang jauh lebih penting: apakah data yang digunakan benar-benar mencerminkan kondisi masyarakat?
Keluhan tentang pendataan yang tidak akurat terus beredar di tengah masyarakat. Ada warga yang merasa berhak menerima bantuan namun tidak tercantum dalam daftar. Sebaliknya, muncul pula cerita mengenai penerima yang dianggap tidak memenuhi kriteria tetapi justru mendapatkan prioritas. Benar atau tidaknya keluhan tersebut tentu harus diuji melalui verifikasi yang terbuka dan transparan. Namun banyaknya suara serupa menunjukkan adanya persoalan kepercayaan yang tidak boleh diabaikan.
Kecurigaan publik semakin menguat ketika proses verifikasi lebih banyak terdengar melalui rapat, presentasi, dan laporan administratif daripada hasil pemeriksaan langsung di lapangan. Warga membutuhkan bukti bahwa negara hadir secara nyata, bukan sekadar melalui angka-angka dalam dokumen. Sebab di balik setiap angka terdapat manusia yang kehilangan tempat tinggal, kehilangan mata pencaharian, dan kehilangan rasa aman.
Di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya. Akuntabilitas tidak lahir dari ruang rapat semata. Akuntabilitas lahir ketika pengambil keputusan berani turun ke lokasi terdampak, memeriksa satu per satu fakta di lapangan, dan memastikan tidak ada kepentingan yang menyusup ke dalam daftar penerima bantuan. Ketika warga melihat langsung pejabat bekerja di tengah lumpur, mendengar keluhan mereka, dan memperbaiki kesalahan data secara terbuka, kepercayaan publik akan tumbuh dengan sendirinya.
Sebaliknya, jika yang lebih sering terlihat adalah panggung hiburan dan seremoni, sementara persoalan mendasar masih menyisakan tanda tanya, maka publik berhak mempertanyakan prioritas yang sedang dijalankan. Pesta rakyat memang dapat menjadi sarana mempererat hubungan sosial dan membangun optimisme. Namun pesta tidak boleh menjadi tirai yang menutupi persoalan yang belum selesai.
Masyarakat tidak membutuhkan kemeriahan yang sesaat. Mereka membutuhkan kepastian. Mereka membutuhkan data yang jujur, bantuan yang tepat sasaran, dan kebijakan yang berpihak kepada mereka yang benar-benar terdampak. Sebab sejarah menunjukkan bahwa luka akibat bencana dapat sembuh seiring waktu, tetapi luka akibat ketidakadilan dan buruknya tata kelola akan bertahan jauh lebih lama.
Ketika sorotan lampu panggung padam dan keramaian berakhir, yang tersisa adalah kenyataan di lapangan. Rumah yang masih rusak. Harapan yang masih menggantung. Dan pertanyaan yang terus menunggu jawaban: apakah kebijakan benar-benar dibangun di atas kebutuhan rakyat, atau sekadar disusun agar terlihat baik di atas kertas?
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pemerintah bukanlah seberapa meriah pesta yang digelar, melainkan seberapa banyak persoalan rakyat yang berhasil diselesaikan. Karena bagi mereka yang masih menunggu bantuan dan keadilan, hiburan tidak pernah bisa menggantikan hak yang belum terpenuhi.
- (@π€uK ¶|7@¥)













